WALLACEA.OR.ID, PALOPO - Sebagai Lead Partner Program USAID MADANI Luwu Utara, wallacea.or.id berbagi informasi, pengetahuan dan pengalaman hasil Basic Training yang dilakukan PT Remdec tentang Perencanaan Strategi dan Manajemen Organisasi, Sistem dan Manajemen SDM, serta Manajemen Keuangan bagi CSO di Luwu Utara yang menjadi anggota Simpul Belajar Lamaranginang dalam bentuk ‘’Learning Sharing Workshop, Berbagi Pembelajaran dari Basic Training Bagi Simpul Belajar Lamaranginang Kabupaten Luwu Utara’’ yang berlangsung pada 13-14 Januari 2021 di Hotel Agrowisata Kota Palopo.

Sesi pembelajaran ketiga domain materi Basic Training Remdec itu difasilitasi Sainal Abidin Ketua Badan Pengurus Perkumpulan Wallacea yang berlangsung dari Rabu sore dan berlanjut besoknya (Kamis pagi) dengan penugasan dimana setiap CSO memetakan kondisi lembaganya berdasarkan domain Basic Training dan Kapasitas Minimal CSO.

Sesi sharing pertama disampaikan Hamsaluddin yang juga Koordinator untuk Program MADANI ini, dan Muslan Seza Direktur Mitra Swadaya Mandiri dengan materi Perencanaan Strategis dan Managemant Organisasi.

Sesi sharing kedua tentang Sistem dan Management Sumberdaya yang disampaikan Nurlaela yang juga Staf Keuangan Perkumpulan Wallacea, dan Rizal Muthahari dari Mitra Swadaya Mandiri.

Sedangkan sesi sharing ketiga tentang Management Keuangan disampaikan Yuni Kartika dari Mitra Swadaya Mandiri, dan Maryam Ismail yang juga Staf Keuangan Perkumpulan Wallacea.

Turut hadir pada kegiatan ini yaitu perwakilan Bappeda Luwu Utara, Badan Kesbangpol Luwu Utara, Dinas PMD Luwu Utara, Ketua Simpul Belajar Lamaranginang, perwakilan masing-masing CSO anggota simpul seperti FAKTA, LEPMAL, L-PERAK, KLINIK DESA, FATAYAT NU Luwu Utara, Mitra Swadaya Mandiri sebagai mitra lokal, dan Muhammad Sahaka sebagai FC Luwu Utara.

Kegiatan dikemas dalam bentuk pembelajaran orang dewasa. Diawali dengan brainstorming, penyusunan jadwal belajar, diskusi tematik terkait hasil pelatihan dengan REMDEC, dan juga ada sesi diskusi secara daring tentang kebijakan transfer anggaran berbasis ekologi.

Sharing pembelajaran ini dibuka langsung oleh sekretaris Bappeda Luwu Utara. Dalam sambutannya Syawal Sammang berpesan kepada FC MADANI dan Perkumpulan Wallacea supaya tetap mengawal dan membimbing CSO anggota Simpul Belajar Lamaranginang ini. Terutama pada hal teknis pelaporan keuangan memakai saNGO agar betul-betul difahami pengingat begitu pentingnya kegiatan ini

Diakhir sambutannya, Sekretaris Bappeda meminta kepada Simpul Belajar Lamaranginang untuk membuat diskusi rutin yang sifatnya bulanan dengan issu aktual di Luwu Utara. Ia juga meminta agar diskusi itu bisa menghasilkan sebuah dokumen utuh, ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Lalu diserahkan kepada Bupati sebagai masukan dan sebagai kontribusi CSO terhadap kemajuan pembangunan di daerah.

Diskusi Daring Transfer Anggaran Berbasis Ekologi Bersama CSO Luwu Utara

Tak hanya membahas hasil Basic Training Remdec dan Kapasitas Minimal CSO, dalam ‘’Learning Sharing Workshop, Berbagi Pembelajaran bagi Simpul Belajar Lamaranginang Kabupaten Luwu Utara’’ ini juga diperkenalkan Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE). Sesi berlangsung secara daring pada siang hingga sore hari yang dipandu Basri Andang Direktur Eksekutif Perkumpulan Wallacea. Narasumber pada sesi ini, yaitu DR. Syamsu Rijal yang saat ini mejabat Kepala Laboratorium Perencanaan dan Sistem Informasi Kehutanan Universitas Hasanuddin, dan Direktur Eksekutif Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam.

Dalam pengantarnya Basri Andang menceritakan secara singkat terkait penguatan kapasitas yang saat itu difasilitasi oleh REMDEC yang ditunjuk oleh USAID MADANI untuk melakukan penguatan kapasitas bagi mitra utama di 24 kabupaten/kota di Indonesia. Ia berharap hasil dari sharing ini membantu dalam penguatan anggota Simpul Belajar Lamaranginang yang berdiri pada tanggal 23 September 2020 oleh 9 lembaga OMS Luwu Utara yang akan mengawal issu tematik Transparansi Dana Desa.

DR Syamsu Rijal menyampaikan dalam diskusi tersebut, karena ini sifatnya sharing, dan mungkin baru awal juga didengar oleh teman-teman yang lainnya, jadi pada pertemuan awal ini kita perkenalkan saja dulu apa dan bagaimana TAKE ini.

‘’Barangkali yang perlu kita renungkan adalah Luwu Utara sendiri kalau dilihat dari topografinya, kebanyakan hutan, gunung dan sungai. Artinya isu ekologi sangat konteks untuk hal ini terutama pasca banjir,” tegas dosen UNHAS yang akrab disapa Pak Jay.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IBC Roy Salam menyampaikan, pada tingkat desa, Kemendes punya pembagian yang menarik. Dana desa setiap tahunnya semakin meningkat. Pemerintah pusat membaginya menjadi alokasi dasar, alokasi afirmasi, alokasi volume dan alokasi kinerja. Pemerintah sendiri telah meningkatkan alokasi kinerja, dari awalnya 2 persen menjadi 3 persen, tetapi pembagian anggaran masih konvensional atau tradisional.

Pertanyaan yang cukup menarik dari peserta, adalah bagaimana menyambungkan Transfer Anggaran Provinsi Berbasis Ekologi (TAPE) ini kepada kabupaten dalam skema Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE) dan peluangnya seperti apa? Adakah ruang bagi CSO di tingkat lokal untuk mengawalnya hingga sampai di kabupaten?

Kedua narasumber mengatakan sangat memungkinkan CSO lokal mengawal TAPE ke kabupaten dengan menetapkan beberapa indikator dalam TAPE juga menjadi indikator TAKE. Menurut DR Syamsu Rijal yang penting dilakukan adalah bagaimana mengawal komitmen implementasi program yang diturunkan.

Sedangkan, Roy Salam menyarankan pada akhir sesi supaya dialog perlu terus dilakukan terkait transfer anggaran ekologi ini. ‘’Kalau desa-desa juga bisa menangkap ini, saya kira menarik dan akan saling menguatkan. Teman-teman bisa mengecek apakah APBDes desa-desa yang punya masalah bencana atau ekologi tapi tidak mengalokasikan dana desanya,’’ ajak Roy kepada peserta anggota Simpul Belajar Lamaranginang memulai mengumpulkan APBDes dan membedahnya.

Kelas Malam Workshop Sharing Pembelajaran

Tak seperti biasanya, kelas belajar USAID MADANI kali ini ada sesi malamnya. Meski hujan mengguyur, semangat dan antusias dari para peserta tetap kokoh. Kegiatan berlangsung sejak pukul 08:00 Wita dan ditargetkan berakhir pada pukul 22:00 Wita, sebagaimana kesepakatan dengan pihak Hotel Agro Wisata.

Dalam kelas malam ini yang menjadi topik pembahasan adalah sistem dan management sumberdaya yang disampaikan Nurlaela dari Perkumpulan Wallacea dan Rizal Muthahari dari Mitra Swadaya Mandiri.

Nurlaela sebagai pembicara pertama menyampaikan, kelas ini adalah kelas sharing. Bukan bermaksud untuk menggurui, tetapi kami mencoba mentransformasi hasil kelas mereka secara daring dengan REMDEC beberapa waktu yang lalu. Output dari pelatihan itu sebenarnya melahirkan SOP ketenagakerjaan.

Rizal Muthahari yang saat itu menjadi tim sharing dari Mitra Swadaya Mandiri menyampaikan, terus terang saya agak kerepotan jika pembelajaran secara daring. Beruntung saya terus ikut di pertemuan Simpul Belajar Lamaranginang di Luwu Utara. Hari ini saya diminta untuk berbagi juga dengan bapak dan ibu sekalian.

‘’Sebagaimana yang disampaikan oleh saudari Nurlaela tadi bahwa Output dari pelatihan itu sebenarnya melahirkan SOP ketenagakerjaan. Yang paling jarang memang di CSO adalah membuat SOP dan menerapkan SOP tersebut. Biasanya SOP dibuat jika akan ada permintaan dari donor sebagai syarat. Padahal menurut saya SOP ini adalah ruh organisasi,’’ ujar Rizal dalam pemaparannya.

Sesi keduanya berakhir setelah satu jam berjibaku dengan peserta. Sementara satu jam waktu tersisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh tim sharing lainnya, yaitu Maryam Ismail dan Yuni untuk sharing managemen keuangan.

Selama satu jam penuh, pembicara dan CSO yang hadir mendiskusikan secara serius soal perencanaan, pengelolaan, pengawasan, dan pengembangan informasi keuangan. Hampir-hampir mereka lupa waktu, sekiranya tak diingatkan oleh pihak hotel.

Sainal Abidin sebagai fasilitator dalam kegiatan ini, tanggap melihat kondisi, dan langsung menskorsing pertemuan yang akan dilanjutkan besoknya.

Identifikasi Mandiri Kapasitas dan Kondisi Organisasi

Kamis, 14 Januari 2021 adalah kelas terakhir dari Sharing Pembelajaran dan Workshop. Kelas dimulai dengan meminta peserta mengisi matriks ceklis dokumen organisasi anggota Simpul Belajar Lamaranginang dan rencana pemenuhan.

Pengisian matriks belangsung selama tiga puluh menit. Hasil ceklis itu sendiri, akan digandakan oleh Wallacea selaku pelaksana, dan dibagikan kembali kepada CSO yang hadir sebagai pengingat, sekaligus melengkapi apa yang perlu dibenahi.

Pada hari itu, kelas dibagi menjadi dua. Kelas pertama akan diikuti oleh keterwakilan Mitra Swadaya Mandiri sebanyak tiga orang yang akan pandu dan dikawal langsung oleh Hamsaluddin, Basri Andang, dan Muhammad Sahaka. Kelas pertama ini berlangsung di Kantor Perkumpulan Wallacea sebagai bagian dari mentoring terhadap penyusunan rencana kerja Mitra Swadaya Mandiri sebagai mitra lokal.

Peserta lainnya tetap berada di Hotel Agro Wisata yang dipandu Marsus Zakaria yang juga Manager Keuangan Perkumpulan Wallacea dan Nurlaela (Staf Keuangan Wallacea). Kelas kedua ini akan bediskusi seputar penyusunan keuangan lembaga, dan pembekalan teknis mengunakan aplikasi saNGO. Sekedar diketahui, aplikasi saNGO adalah software pencatatan keuangan bagi lembaga nirlaba dan telah disesuaikan dengan PSAK 45. Staf keuangan dari Mitra Swadaya Mandiri mengikuti sesi ini.

Kedua kelas berakhir menjelang makan siang, dan akan dilanjutkan kembali pada pukul 14:00 Wita. Kegiatan pleno siangnya kembali diambil alih fasilitator Sainal Abidin untuk menyampaikan hasil identifikasi mandiri masing-masing CSO terkait domain Basic Training dan Kapasitas Minimal CSO, dan dilanjutkan penyusunan rencana apa yang akan dilakukan oleh anggota Simpul Belajar Lamaranginang terkait pemenuhan dari proses pembelajaran yang berlangsung selama dua hari ini.

Berbagi artikel ini:
Pin It