WALLACEA.OR.ID, LUWU TIMUR - Danau Matano merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dengan kedalam hingga 590 meter dan menduduki peringkat kesembilan sebagai danau terdalam di dunia. Dengan keunikan dan kekayaan hayatinya, danau Matano termasuk danau Prioritas Nasional dalam Dokumen Penyelamatan Danau di Indonesia. Sedimentasi menjadi salah satu ancaman kerusakan danau Matano akibat aktivitas Daerah Tangkapan Air (DTA).

Pada tanggal 12 November 2020, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Jeneberang-Saddang menjajaki penerapan model konservasi tanah dan air di DTA Danau Matano yang ada di Desa Nuha dengan melakukan diskusi dan sosialisasi bersama Forum Pelestari DTA Danau Matano Desa Nuha sebagai salah satu upaya Penyelamatan Danau Matano. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kantor Desa Nuha.

Beberapa perwakilan yang turut hadir pada diskusi dan sosialisasi tersebut, yaitu BPDASHL Jeneberang-Saddang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu Timur, Forum DAS Sulsel, Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM), dan Perkumpulan Wallacea

Tim ini berdiskusi dengan Forum Pelestari DTA Danau Matano Desa Nuha, Kelompok Tani, Kelompok Perempuan di Desa Nuha untuk bersama-sama menyusun rencana perencanaan Program Alih Usaha untuk Penyelamatan Danau Matano dengan Penerapan Model Konservasi Tanah dan Air baik secara mekanik maupun secara vegetatif. Pada pertemuan tersebut disepakati adanya 2 kelompok pengelola yang akan melakukan budidaya lebah madu trigona, penanaman tanaman Multy Purpose Tree Species (MPTS) seperti Durian, Mangga, Alpukat, Jengkol, Cempedak, dan tanaman endemik seperti Rode, Mata Kucing dan Dama’ Dere’.

Menurut Gunawan yang juga Tim BPDASHL Jeneberang-Saddang, tujuan dari penerapan konservasi tanah dan air ini adalah meningkatkan keswadayaan masyarakat dalam pengamanan DTA Danau Matano dan memberikan sumber peingkatan ekonomi masyarakat di Desa Nuha.

Dalam perencanaannya, pembuatan rorak akan dilakukan di kebun masyarakat. Rorak ini merupakan sistem konservasi tanah dan Air secara mekanik yang bertujuan untuk menjebak aliran permukaan sampai ke danau, menyediakan air untuk tanaman yang ada di atasnya. Upaya ini diharapkan untuk meminimalisir laju sedimentasi di Danau Matano. Dari keseluruhan kegiatan ini, setiap kelompok pengelola akan mendapatkan dana stimulan sebesar Rp 50 juta.

Menurut Sekdes Nuha, Tahwil yang juga Koordinator Danau Matano dari Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM), kegiatan ini diharapkan mampu menjaga kelestarian daerah tangkapan air Danau Matano yang ada di Desa Nuha, menjaga kualitas air, dan mencegah laju sedimentasi Danau Matano.

Berbagi artikel ini:
Pin It